CO.CC:Free Domain

27 Juni 2008

Sekolah BerTarif Internasional (SBI), Mau? (bagian akhir)


Hhe maaf nih jarang posting lagi beberapa hari ini, nggak ada inspirasi (udah ga langgangan Sindo). Oke, buat ngelanjutin baca posting ini, ada baiknya pembaca baca posting sebelumnya, tentang suka duka perjuangan gue masuk SBI. Karena ini merupakan bagian akhir dari hidup gue perjuangan gue meng-upgrade diri menjadi SMA. Cocokkah gue masuk SMA, bisakah gue masuk SMA, masih kah gue ganteng (huek)? Bacha achah!
Hidup gue ternyata emang penuh perjuangan, setelah bergembira ria karena diterima di SBI Smansa, gue balik lagi ke mode deg-degan. Kenapa? Meskipun dengan surat penerimaan dari pihak Smansa gue udah resmi jadi muridnya, tetep aja pada akhirnya nem menentukan. Selain karena penentuan lulus enggaknya gue, tinggi rendahnya nem juga bisa narik diri gue dari 'keresmian' Smansa. Pasalnya (cie bahasanya), salah satu dua syarat masuk SBI Smansa adalah lulus (ya iyalah! Masa' belom lulus nekat ke SMA) dan rata-rata nem di atas 7,5 .
Anyway, balik ke keadaan setelah gue nerima surat penerimaan, pas gue lagi seneng-senengnya. Faktanya, lumayan banyak murid dari sekolah gue (spensa) yang lolos SBI Smansa. Anehnya, ada murid yang pinter tapi nggak lolos, ada juga yang bego tapi bisa lolos (kaya' gue), mungkin emang bener, pada akhirnya Tuhan yang menentukan (gile Bani!) . Waktu itu dalam sekejap ekspresi temen-temen gue berubah drastis, ada yang gembira, ada yang sedih ada juga ada yang gembira melihat orang bersedih. Sayangnya temen-temen gue dari SMP lain sedikit yang masuk, mungkin karena do'a gue terkabul (!??). Udah ah, lanjut!
Selanjutnya yang harus gue lakukan adalah mengambil formulir pendaftaran. Yang diperlukan buat melengkapi formulir itu antara lain fotokopi akte kematian kelahiran sama foto beberapa lembar. Pulanglah gue ke rumah dan mengobrak-abrik semua lemari , tapi nggak ketemu-ketemu. Heran gue, jangan-jangan diumpetin bonyok, jangan-jangan gue bukan... (arrggh!!). Emang yang namanya akte itu kalau nggak dibutuhin ada, kalau lagi dibutuhin malah nggak ada. Tapi akhirnya ketemu koq di tempat sampah. Dan ternyata memang ada tulisan 'Sah'-nya, gue pun nangis (lebay).
Foto resmi 3x4 tiga sama yang 4x6 dua. Wew, gue lagi nggak ada foto resmim, nih. Sempet gue mau minta ke pihak sekolah (smp) klise foto, tapi gurunya so' sibuk rapat terus (kayak wakil rakyat ajah). Di komputer ada sih, tapi foto yang udah gue edit jadi monyet, masa' mau gue kasiin? Nih fotonya.


Menderita

Untungnya ada foto resmi dari sekolah (fotonya, bukan klise) yang buat ditempel di kartu peserta tes SBI Smansa. Gue pisahin tuh foto dari kartu, terus gue scan. Yah, ada putih-putih dikit mah tinggal di replace warnanya terus di blur (jerawat gue juga dimanipulasi). Masalah sayangnya masih memeluk erat gue, tinta printer abis! Aw, aw, aw, ikh, ikh, ikh .
Atas saran kakak gue, akhirnya gue pergi ke tempat cetak foto instan yang kaya' ATM gitu. Meskipun gue bisa dibilang ganteng bersahabat sama yang namanya teknologi (cie), tapi tetep aja, gue belom pernah nyentuh sama sekali mesin cetak foto instan tersebut. Yang banyak menyediakan jasa cetak foto kaya' gitu biasanya di Pangrango Plaza (PP). Jujur gue jarbang (jarang bangeets) pergi ke tempat yang namanya PP, kenapa? Soalnya menurut gue letaknya kurang enak. Terakhir gue ke sana waktu semester satu buat beli kaset PS2, masih lumayan rame, tapi sekarang tempatnya kaya' kuburan, sepi bangeets. Kios-kios pada kosong, restoran cepat saji juga kosong, bahkan toko bukunya (waktu itu gue mau ke toko bukunya dulu, tapi karena nggak ada pengunjung sama sekal, gue ga jadi. Nggak enak kalo cuma numpang baca). Ramenya paling cuma di lantai bawah tempat kios-kios cetak fotonya.
Kembali ke masalah gue nggak bisa pake mesin cetak foto instan. Yang gue takutin adalah, karena mesinnya nggak nurut apa kehendak gue (misal foto nggak muncul-muncul, ato di foto bibir gue jadi kaya' Cinta Laura), gue pukul tuh mesin sampe puas, eh sampe rusak. Terus gue ditegur sama mbak penjaganya, "Mas, ini touchscreen bukan punchscreen" . Udah ah, gue cari aman ajah, minta bimbingan penjaganya gimana cara make ini alat (waktu gue nanya gitu kaya'nya si penjaganya berpikir, "Ih, ternyata masih ada aja ya orang gaptek, pasti orang kampung"). Well, formulir pendaftaran ulang lengkap!
Jelek bangeets! Apaan tuh yang jelek? Yang pasti bukan wajah gue. Beberapa hari sebelum nem diumumkan, sekolah gue mengadakan acara perpisahan. Gue bingung deh, masa' nem belom keluar udah mau perpisahan? Jeleknya adalah, perpisahannya nggak seru! Cuma enam jam di Bale Binarum! Cuih, masa' penutupan selama tiga tahun cuma diisi dengan penyambutan doang. Paling ramenya waktu acara penampilan band-band. Sebenernya gue pengen cerita lebih banyak tentang perpisahan, tapi berhubung nggak seru, gue skip aja.
Oke tibalah waktunya pembagian nem, deg-degan juga sih soalnya penentuan gue selama tiga tahun menjajah sekolah. Gue diwakilin kakak gue waktu itu. Nama gue pun dipanggil dan... Gue sama kakak gue diem. Nem gue 36,5!!!!! Jelek sebenernya, dibandingkan temen-temen gue yang 37-38an, tapi kan rata-rata udah di atas 7,5 SBI Smansa udah di tangan (yakin amat gue). Yang penting UN GUE BERSIH N JUJUR 100%! Gue bangga dengan hasil gue sendiri. Akhir posting, gue mau ucapin selamat kepada semua temen-temen gue yang udah lulus dan mendapatakan nem yang memuaskan. Buat Dimas, Anas, Qalby, Meisha, Thia dan semuanya!
Banyak orang berpendapat UN itu jelek. Gue sih netral-netral aja, nggak berpikir bagus, nggak juga jelek. Jeleknya adalah kenapa kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun hanya ditentukan dalam empat hari? Bagusnya adalah, gue sebagai saksi dan peserta dalam kegiatan UN, merasa kalo UN juga nggak buruk BUAT ORANG INDONESIA. Faktanya, sebagian murid Indonesia hanya belajar bila ada ulangan besar saja (ini beneran terjadi), yang rajin bukan berarti sedikit loh. Jadi, andaikan kelulusan itu ditentukan dari kegiatan sehari-hari seperti PR dan tingkah laku, bisa dibilang kurang memuaskan hasil akhirnya. Apa lagi masa SMP adalah masa di mana murid mulai beranjak dewasa dan berani coba-coba segala hal , nggak sedikit loh temen-temen gue yang waktunya terkuras untuk jalan-jalan, main atau hobi. Yah, ini mah kan cuma pendapat gue aja.

Udah selesai, sekarang silakan kasih komentar. Apa, kamu suka dengan posting ini? Kalau gitu link aja blog ini, oke? Pasti gue backlink koq, sip.

10 komentar:

  1. aku yg beri komentar pertama kali ,horeee:
    begini ,karena aku tidak tahu dimana smansa ,mending kamu masuk pesantren kami aja,ajarin kami bikin blog yg bagus.

    BalasHapus
  2. mahal ga masuk sma skrg?
    jangan2 ongkos masuk ma dah setara dgn ongkos masuk kulia..

    BalasHapus
  3. waw gede2 ya nem sekarang .. jadi lo gimana ni mo masuk mana ? semoga dapet yang terbaik dah ah haha

    BalasHapus
  4. @mike
    uang pangkalnya Rp 8.250.000

    @benazio
    (makanya baca dulu yang 'bagian awal'-nya)Masuk SBI Smansa Bogor, Bang! Makasih do'anya ya! (emang iya?)

    BalasHapus
  5. Anak saya 3 tahun yg lalu diterima di SBI salah sati SMA Negeri, tapi di tengah jalan ternyata gak jelas programnya, jadi pindah ke SMAN Reguler lagi

    BalasHapus
  6. hohohoho akhirnya gw bisa komen jugaaaa...

    nemnya bagus itu 36,5 hiks hiks kok gw jadi deg2an ya taun depan udah mulai cari sma nih...
    slamet yoooo, jadi kan masuk SBI nya berarti??!

    BalasHapus
  7. selamat yach sob

    horeee

    kita masuk sma!!!

    yihaaaaa

    BalasHapus
  8. hohoho . . .

    mulai skg qta satu skolah . . .

    klo gw berhasil lulus aksel , gw jdi kk klas lo dung . . .

    khikhikhi . . .

    BalasHapus
  9. @Eucalyptus
    Aduh...

    @Paams
    Siap-siap aja

    @bL4Ck_3n91n3
    iye, iye...

    @meisha . . .
    Kita!? Iye....

    BalasHapus